rss
email
twitter
facebook

Sunday, February 17, 2013

My Fairy Tale Adventure Begins!

Ehm....

Eeerrr....

Well....

Okay.

I am married.

There, I said it.

And the truth is, I am very happy with that. It is actually kind of a surprise for me too. Well, you know how my perception towards marriage is. But it all changes when I met him.

This might sounds cheesy, but he really is the perfect man for me. I couldn’t find anyone else better suited me and my way of life than him. Truthfully, we were also can’t believe it at first, of how much we are so perfect for each other. How good our little life together is. That’s when we decided to get married.

And oh how it brings pain and headache. I am gonna tell you the truth : I hate preparing wedding! It was all just a big fucking headache, with a lot of planning, choosing, and deciding. Hellooo...deciding to get married is already a big thing for me, and you are asking me to decide a lot more? Well, not that I have decision issues, but I mean, I am not that kind of girl who always have a dream wedding since they were little. I was like, yeah whatever, as long as I am married to the man I love, whom I choose by myself and I wasn’t pressured by anyone to marry him.

And if I can decide anything about my wedding other than the guy I am marrying, I want a small wedding with families and close friends only. But since my parents were TOTALLY against it *roll-eyes*, the more reason not to care so much of my own wedding.

And then we got married.

I am gonna spare you all the gory details of our wedding. In sum, it was scary. No...no...no...not that we were scared about spending the rest of our life together. It was the amount of attention given to us. How they are going to see everything we do, hear everything we were saying. And I was just scared that I am not gonna give a good performance. What if I ruin this? What if I can’t remember the vow? What if I sneeze too much? What if I cried like a sick fuck? Well, that sort of stuff.

Anyway, its been a month now that we are married. Honestly, not much has change since. We were kinda already living like this since a year ago. The only difference is not we got to really doing all the future plans we made. And that is exciting.

But ever since we got married, I often find myself deep-staring at my husband with an astonished feeling. I still can’t believe how lucky I am to have someone like him. He’s everything I need in a man. I love everything about him.

I love the way he smile at me. I love the way he always make crazy face and voice. I love how he always listen to me, and actually considering my opinions that I gave him. I love that he understand me, and always supporting my every plans. I love that I can share everything with him, knowing that we can discuss everything and find a way out for every problem. I love that we always talk. I love that we make future plans, and actually pouring every effort we have to reach that goal. I love the way he make love to me. I love that he is crazily in love with me, like I am to him.

Yes, I have a perfect life with a perfect husband. Sounds like fairy tale now. I never expect life can be this good. Sometimes we even think that this is too good to be true. That later some horrible thing will come our way and ruin everything, which require us to work our ass off to solve every problem we have in order to stay together.


Well, I think we need to relax and just enjoy what we have now. Worry later!

Monday, October 24, 2011

Thank You 26, Hello 27!

People are evolving.

Lucu rasanya saat memandang ke belakang dan melihat diri kita sendiri bergumul dengan kehidupan. Bagaimana kita menyikapi sebuah permasalahan, sudut pandang yang kita miliki, kenaifan serta seringkali kebodohan yang kita lakukan.

Lucky for me (or unlucky), aku memiliki sebuah blog yang seakan merekam setiap momen kedangkalan cara berpikir serta ketidakmatangan perilaku yang pernah dilakukan. Akibatnya, seharian ini aku bolak balik dipaksa tersenyum pahit saat membaca ulang postingan-postingan lama di blog-ku itu. Owalah...ternyata dulu itu aku benar-benar naif, irrasional, kekanak-kanakan dan memiliki emosi yang benar-benar tak terkontrol.

But, aside from all that, aku mampu melihat dengan jelas perjalanan hidupku, apa yang menjadi harapan, keinginan serta mimpiku, dan apa yang telah aku raih. Dan aku menyadari bahwa despite everything that happen, aku ini termasuk manusia yang sangat sangat beruntung. Tentunya, itu semua membuatku bahagia. :)

Satu tahun terakhir adalah saat-saat yang sangat magical untukku. Usia 26 tahun memberikan kejutan-kejutan tak terkira dalam hidup seorang putri respati.

Tepat satu tahun lalu, kado pertama yang dihadiahkan kepadaku oleh usia 26 adalah berakhirnya sebuah hubungan yang telah terjalin selama 2,5 tahun. Well, harus kuakui, kado yang satu ini sangat telak menghantam dan membuatku cukup limbung karena aku pernah sangat menaruh harapan akan masa depan dalam hubungan ini.

Tidak mudah menghadapi efek yang timbul dari tercabutnya salah satu harapan tersebut. Namun beberapa hal positif yang bisa aku syukuri adalah munculnya keberanianku untuk sedikit keluar dari zona nyaman. I curled my hair. I dyed my hair. I tattooed my back. Semua ini adalah hal-hal yang selalu ingin aku lakukan tapi tidak pernah benar-benar mendapatkan keberanian untuk mewujudkannya.

Dan ternyata, aku menyukai semua hal yang aku lakukan. I love my semi blonde curled hair. And I definitely proud of my tattoo. Change is indeed good.

Menginjak usia 26 aku mulai mencurahkan semua tenaga yang aku miliki dalam pekerjaan. Well, its all I have, anyway. Of course I pour all my energy on that. I work my ass off. Meski bukan yang paling pagi, seringkali aku menjadi yang terakhir bertahan di kantor. Pulang jam 10, 11, bahkan jam 12 malam dari kantor merupakan rutinitas yang biasa untukku. Sampai-sampai aku dianugerahi kunci kantor oleh pak Sarmili, salah satu OB kantor, hanya supaya dia tak harus menungguiku pulang sebelum dia bisa mengunci kantor dan pulang dan bertemu anak istrinya. Jadi, ternyata aku juga merangkap pekerjaan sebagai Office Girl selain seorang Business Development. Hahahaha... But truthfully, I enjoy all that. And I love my job.

Dan karena aku tergolong orang yang suka ngeyel, kegagalan di usia 25 tahun dalam mendapatkan beasiswa tidak menyurutkan langkahku untuk terus mencoba. Meski sempat tersendat-sendat karena aku begitu terfokus pada pekerjaanku, aku berhasil mendapatkan LoA dari beberapa Universitas yang cukup ternama di Belanda, Utrecht dan Maastricht University, both for New Media and Digital Culture Master Degree. Maka, akupun hanya tinggal mencari institusi yang akan membiayai sekolahku tersebut.

Klimaks usia 26 terjadi pada tanggal 12 Juli 2011. This is definitely on of the most important moment of my life. Aku masih bisa mengingat dengan jelas momen demi momen yang terjadi hari itu.

Singkat kata, sore itu aku mendapatkan email dari Depkominfo yang membuatku tercengang untuk sesaat, membaca email tersebut berulang-ulang ,sebelum akhirnya berteriak dan meloncat kesana kemari dengan kegembiraan level 157. Ya, aku diterima sebagai salah satu calon penerima beasiswa luar negeri Depkominfo tahun 2011.

Tidak terkira rasanya kegembiraan yang meliputiku saat itu. I mean, after all this year, after all of my effort, after all rejections that I received, I made it. I got the scholarship. Even though I’m not a public bureaucrat, or a lecturer, or an NGO officer. I’m just an ordinary private company employee. But I got the scholarship.

But things didn’t end only at that. 20 minutes after my crazy jumping celebration, my director called me to his chamber. Before I had the chance to tell him about the scholarship, he handed me a folder. Inside that folder, lies my promotion letter and the nominal of my salary adjustment. I was just appointed as Business and Marketing Manager.


Dan aku pun terbang ke langit keduapuluh enam.

I can’t even begin to describe my feeling at that time. Yang aku tahu, aku merasa sedang ketiban durian runtuh. Bukan hanya satu, tapi 3 sekaligus, dan duriannya jenis montong semua. It’s like, all that I’ve been working on is now being paid. All that efforts, all that hard work.

Malam itu aku langsung menghadap ke bos besarku, pak TeGe, untuk berterima kasih kepada beliau atas kepercayaannya padaku serta menginformasikan tentang kondisi yang aku hadapi.

Tanpa kusangka-sangka sebelumnya, he made a counter offer. He told me to turn down the scholarship and in return he will pay for my master degree in 2013, to ANYWHERE I want. Doesn’t matter where, what subject I wish to take and how much it costs. Pertimbangan mengenai kapan aku berangkat adalah karena saat ini project yang sedang aku jalankan masih belum berjalan. Beliau ingin aku mewujudkan project itu terlebih dahulu, memastikan sistem berjalan dengan baik, barulah aku bisa mengambil Master Degree-ku.

Well, pilihan yang cukup sulit buatku. Di satu sisi, kurang lebih telah 10 tahun aku menginginkan sekolah di luar negeri. Dan saat ini aku memilikinya tepat di depan batang hidungku. Di sisi lain, aku mencintai pekerjaanku, dan aku juga mendapatkan kesempatan sekolah di luar negeri untuk tahun 2013. Antara mimpi lama dan mimpi baru. Antara kepastian hari ini dan possibilities in the future.

Usia 26 membuat aku terombang-ambing dalam proses pengambilan keputusan. Aku harus banyak melakukan penimbangan terhadap segala faktor, opportunity dan resiko yang akan aku temui. Hingga akhirnya aku sampai pada sebuah keputusan yang mantap kuambil setelah 3 bulan bertapa. Aku akan mengambil resiko dan menerima tawaran bosku. I will work my ass off (again), make the project takeoff, and then I will go to Stanford taking MBA and learn all about Silicon Valley. I know all the consequences, the possibilities that none of that will ever come true. But I’m ready to take that risk.

There’s a whole lot thing that the age of 26 has taught me, about family, about friendship, and life. Bakal terlalu panjang untuk menceritakan semuanya dalam satu postingan ini. Yang jelas, usia 26 is my most magical age so far.

Oh, and the last but probably the most exciting part, in the age of 26 I met si babi. :) :) :) No need to tell how happy I am that I found him in my life.

Maka, aku melepas usia 26 dengan penuh sukacita. Terima kasih telah mendampingiku selama setahun ini. Terima kasih telah memberi ledakan-ledakan kecil dan besar di dalam kehidupanku. Terima kasih telah bertambah dewasa bersamaku.

Selamat datang usia 27. Mari berjabat tangan dan melangkah bersama. Aku tak sabar menanti ledakan apa yang akan kau berikan padaku. :)

Tuesday, October 18, 2011

NGOMEL!

Salah satu hal paling menyebalkan di usia-usia kepala dua nanggung mengarah ke kepala 3 adalah mulai menguatnya tekanan untuk “menikah”. Kayaknya nggak ada hari yang terlalui tanpa ada yang nyerempet ke pertanyaan andalan : “kapan”.

Pas lagi pacaran udah dua tahun lebih, ditanya “Kapan, kan udah lama pacarannya. Nunggu apa lagi sih?”. Nunggu bisa numbuhin pohon duid di halaman belakang rumah!

Pas lagi jomblo, ditanya “Mana teman dekatmu? Sana ikut aktivitas gereja biar dapet jodoh yang seiman!” Gubrag!

Aku nggak habis pikir kenapa sih orang-orang di Indonesia ini begitu terobsesinya dengan pernikahan? Saat aku berkata bahwa aku nggak mau menikah, atau paling tidak tidak ingin memikirkan tentang pernikahan terlebih dahulu, mereka mengernyitkan dahi. Saat aku bilang bahwa aku hendak fokus ke pekerjaan dan karirku dahulu, mereka menyalahkanku. Hoooiii...kalo aku nggak meletakkan pekerjaan di prioritas teratas, karirku nggak akan seperti sekarang kaleeee!!! Dan ternyata, meski nggak nyari-nyari juga, toh akhirnya aku mendapatkan seseorang juga kok. Kecup basah buat si babi dulu aaaahhh.... *smooch

Nah pas barusan dapet pacar baru, tetep aja pertanyaan yang sama muncul : “Kapan? Sudah ada calonnya kan sekarang?” Calon...calon...gundulmu peyang! Kenapa sih mereka tidak bisa memperlakukanku seperti saat aku masih kuliah? Aku mau pacaran dengan siapapun, nggak ada tuh yang melontarkan that fucking annoying word, kapan.

Salah satu teman di kantor berkata bahwa sebuah budaya pasti membawa garis-garis tegas mengenai tahapan kehidupan masyarakatnya. Usia 25 tahun dianggap pintu gerbang bagi seseorang untuk memasuki tahapan pernikahan. Karena ini adalah budaya, walhasil sebagian besar masyarakat mengamini asumsi ini. Walhasil, nyaris semua teman-temanku yang seumuran saat ini sudah pada menikah dan menggendong anak. Atau kalau nggak, ya lagi pada ribut INGIN menikah, meskipun BELUM ada pasangan yang tepat.

Khusus buat yang terakhir, keinginan yang sedemikian menggebu itu hanyalah sebuah efek psikologis dari peer pressure. Efek yang sama yang menimpa kita ketika sedang menghadapi ujian sekolah. Oleh guru kita diberi waktu 2 jam untuk mengerjakan ujian. Tak sampai setengah jam, seorang murid berdiri, mengumpulkan soal dan lembar jawaban kemudian keluar dari kelas. Alhasil, hal ini membuat siswa yang lain menjadi grasa-grusu ingin segera menyelesaikan ujian dan menyusul teman tersebut. Karena mengerjakan dengan terburu-buru, mereka menjadi kurang teliti yang menyebabkan banyak jawaban yang salah. Hal yang sangat disayangkan, terutama mengingat bahwa sebenarnya waktu yang mereka miliki masih panjang.

Ironisnya, yang tidak mereka sadari adalah alasan sebenarnya dari si teman yang paling pertama keluar dari kelas. Apakah ia benar-benar telah mengerjakan soal ujian tersebut? Ataukah justru tidak ada yang bisa ia kerjakan sehingga akhirnya ia menyerah dan keluar dari kelas? No one know. Hal yang sama juga berlaku untuk pernikahan. Siapa yang tahu alasan sebenarnya seseorang menikahi seseorang lain? Bisa jadi karena sudah hamil duluan. Bisa jadi karena masalah harta. Atau alasan-alasan lainnya.

What I’m trying to say here is : mind your own business, people! Berhentilah menjadi seseorang yang seakan-akan tahu yang terbaik bagi orang lain. You are not in else’s shoes, you’re not the one who live his/her life. You won’t understand his/her priority in life. Biarkanlah seseorang memutuskan sendiri apa yang ingin ia lakukan dalam hidup, tanpa judgement dari orang lain, tanpa tekanan untuk melakukan ini itu. Biarkan seseorang memutuskan ia akan menikah karena ia simply ingin menghabiskan hidup bersama dengan pasangannya dan bukannya karena orangtua sudah kebelet pengen punya cucu.

Well anyway, despite my great desire to change the culture, sebenarnya ada cara yang lebih simpel dan tidak muluk-muluk : CUEK BEBEK. Masih menurut si teman tadi, posisi kita di umur-umur rawan ini seperti sedang berada di sebuah panggung sandiwara. Kita adalah lakon yang sedang tampil di atas panggung. Dan sekeras apapun komentar yang muncul dari penonton, kitalah yang memegang kendali atas semua kata yang kita ucapkan. Just go with the scenario, and you will be fine.

Ya ya ya...ini berarti aku harus berhenti mengomel tentang orang-orang yang tidak bisa berhenti bertanya “kapan”. Daripada menyuruh mereka berhenti, mending aku yang berhenti mengomel dan tidak mempedulikan mereka. Just like my fave quote “ I AM THE MASTER OF MY FATE, I AM THE CAPTAIN OF MY SOUL”.

STOP GRUMBLING!

Wednesday, October 12, 2011

Gotcha!




Yaaay, aku mendapatkan kembali rasaku!

Menakjubkan rasanya bagaimana seseorang bisa sebegitu cepat berubah dari patah hati kronis menjadi jatuh cinta kronis hanya dalam kurun waktu dua bulan. But shit like that happens! You have to ask dr. House what’s the cure for that, if they ever have one.

This past year, I’d been trying to fill my broken heart with another color of love. Which I always failed miserably. It wasn’t that I don’t try hard enough. Oh, I tried. And I tried hard. But it was never felt right. It was always like I force something that I shouldn’t have done in the first place, but I’m too stubborn to acknowledge that
.

Lalu akhirnya aku menyerah. Tidak lagi berusaha untuk menjejali kehampaan itu dengan warna cinta yang lain. Dan aku menjalani hidupku sebaik mungkin; di dalam pekerjaan, kehidupan sosial bersama dengan beberapa teman dan sahabat serta keluarga. Tak lagi terganggu dengan keinginan untuk menyingkirkan sosok itu dan menggantikannya dengan sosok lain. Bahkan aku sudah berdamai dengan diri sendiri untuk membiarkan rasa cinta itu mengendap tanpa aku dapat menggapainya. Yah, paling tidak dia akan tetap mengisi salah satu bagian dari kotak hatiku.

Hingga si babi itu menemukanku.

And just like that, I’m having a blast that I never had in this past year.

Bersama si babi aku merasa cantik, seksi, pintar, dan yang paling penting : dicintai dan diinginkan. Dan dia melakukannya tanpa membuatku menjadi orang lain. I’m simply me.

Sumpah, aku nggak pernah mengira bahwa jatuh cinta akan semudah ini. Dan the best thing is, it feels so natural, like it is supposed to be like this. Entah aku yang sedang dimabuk asmara sehingga semuanya terasa seperti dunia sedang dilapisi permen yupi, ataukah memang ketika semua endorfin ini mengendap semua rasa ini akan hilang, aku juga nggak tahu.

Yang aku tahu, aku sangat menikmati saat-saat ini. Melakukan segala hal bersama, melakukan hal-hal yang tidak pernah bisa aku lakukan dalam hubungan-hubungan sebelumnya, serta tentunya saling mengenal satu sama lain.

Dan dengan demikian, aku mencinta lagi. Dan kali ini aku akan melakukannya dengan benar. Love like you were never hurt before, stop dwelling in the past, do not dream of the future, and concentrate the mind in the present moment!

Hey you babi jelek! Welcome to my life! :*



Picture taken from here

Thursday, October 28, 2010

Yes, Love is Blind...and I Love You



One said that love is blind.

Hey, do you suppose to see the other thing than love when you are in love? Bukankah itu artinya mengingkari cinta itu sendiri? When you are in love, you only think about the love, not other things. Cinta itu dari hati loh. Bukan cinta namanya jika kau sudah mencampuradukkan logika dan otak saat mencintai seseorang. Cinta jadi tak tulus jika demikian.

Cinta itu id. Nafsu menggebu yang jika tak diawasi oleh otak sebagai superego, akan merajalela mengisi segenap ruang jiwa dengan keinginan-keinginan yang kadang absurd. Dimana logikanya jika ada keinginan yang sedemikian besar untuk memberikan segala yang dimiliki untuk seseorang yang dicinta? Kerelaan untuk melakukan sesuatu, berkorban, ataupun memaafkan. Bahkan ketika hal-hal tersebut seenaknya menyelonong garis batas ideal yang dengan rapi kita canangkan sebelumnya.

Yes, love is indeed blind.

Memang benar, jika kamu membiarkan sang id bekerja tanpa awasan si superego, suatu saat kamu pasti akan terjerembab dalam kubangan cinta itu sendiri. Membuatmu mengeluh dan menggaruk dada karena gatalnya cinta menyerang hati.

But, what the hell? Don’t you see that love is fun? Being in love is magnificent. Loving someone is definitely not something that I regret.

Ah, seandainya kamu bisa merasakan yang aku rasakan. Memandangi wajahnya yang tertidur pulas, menikmati senyumnya, sensasi saat lengannya melingkari pundakmu, atau ketika jari jemarinya menggenggam erat jemarimu. Mengingatnya saja membuat aku tenggelam dalam kebahagiaan.

And I wouldn’t trade that for everything.

Ya, aku mencintaimu hei lelakiku. Tidak peduli seberapa parah kamu menggores hatiku. And I don’t care what you feel or think about it. I really don’t. Kamu tak punya kuasa mengubah perasaan yang kumiliki terhadapmu. Pokoknya kamu tidak bisa menghentikanku untuk tetap mencintaimu.

Jangan khawatir, jika nanti aku menangis, aku akan terlebih dahulu menyiapkan segabrek tissue untuk menghapus si mata tukang mencret itu. Akan kuperas dia habis-habisan, kukeringkan persediaannya, lantas mengompresnya baik-baik. Hingga esok hari aku bisa kembali mencintaimu. Dan kamu nggak boleh protes. Wek! *ppfffttt

Thursday, May 27, 2010

Froyo Tutorial for Techno Dummies

Sesuai janji, aku bakal membahas bagaimana caranya meng-upgrade NexusOne ke Android 2.2 alias Froyo. Baru kemarin aku menghabiskan setengah harian makan gaji buta di kantor hanya untuk mengoprek-oprek NexusOne ini. Maklum, namanya juga TechnoDummies. Hehehe… :D

Sebenarnya untuk melakukan upgrade ini nggak susah-susah amat, karena banyak banget petunjuknya bertebaran di dunia maya. Terlebih lagi user interface Android emang cukup friendly. Tapiii…sekali lagi aku harus menyalahkan ke-TechnoDummies-an ku karena toh ternyata user interface yang se-friendly itu pun aku masih suka kesulitan. So, ketika sudah mengerti, aku bertekad akan membaginya kepada kalian-kalian para TechnoDummies lainnya. Hehehe…

Here we go.

My NexusOne, My Android, My Open Source Gadget



Well, pada dasarnya aku bukan penggemar gadget. Dari dulu sampai sekarang aku nggak pernah tuh punya atau mengikuti gadget yang aneh-aneh. Hape mah seadanya aja, yang penting bisa dipake telepon ama sms.

Tapi entah kenapa, waktu bekerja dan banyak berhubungan dengan teman-teman yang mendewakan linux, aku kok jadi ikutan tertarik dengan yang namanya open source. Tahun kemarin menjadi pengalaman pertamaku resmi mengoperasikan ubuntu di laptop tercintah. Ku-install sendiri looooh! Hohoho... *banggagakpenting

Thursday, May 20, 2010

Ada Kamu by Aldyna Damping

It's not because I know her personally that I am recommending her here. Yes, I know her. And I also happen to know her talent. And this kid, I can tell you, has a big talent as a singer-songwriter. Her songs are beautiful. And you have to hear her voice. Crisp, and melodious.

She launched her indie album about a years ago. Because of that album, some Malaysian record interested to market her song as RingBackTone in Malaysia.

Her name is Aldyna Damping. You can get to know her personally and listen to her song here. Btw, my fave song is "Penantian". What's yours?

And here is one of her performance while being interviewed in local radio in Surabaya.

Thursday, April 15, 2010

Monster Data Battle




Kemarin sembari nganggung-nganggur di kantor iseng-iseng bermain-main dengan salah satu game yang dibikin Verbatim. Di sini pengunjung akan membuat monster robot dari hard-disk, flashdisk, memory card, dan perangkat penyimpanan data lainnya. Dari monster yang udah di-create ini nanti bakal bertanding dengan monster-monster lainnya. Semakin sering menang, ukuran si monster semakin besar. Ini dilihat dari kapasitas memory dan stat si monster yaitu power, defence, speed dan vitality.

Di sini juga ada sistem ranking loh. Jadi, semakin sering menang, semakin tinggi juga ranking Anda. Berhubung aku baru main dan ternyata kalah melulu, ranking-ku masih di itungan 1 juta sekian. Hiks... Btw, ini skrinsyut monsterku.



Game ini sangat simpel sebenernya, but cukup efektif juga sih buat penghilang stres, apalagi kalau lagi pengen menghajar seseorang. Pantes lah dicoba. Kecuali kalau jatohnya kalah melulu yak. Malah tambah stres entar. Hakhakhakhak....

But, aku salut dengan verbatim jepang. Mereka bisa-bisanya gitu kreatif banget bikin game kayak begini di website mereka. This is an example of a good brand building. Aku yakin, setelah me-launch game ini, jumlah pengunjung website mereka pasti naik pesat. Jadi semangat nih, untuk menelorkan kreativitas serupa di Indonesia. Hmmmm....